Jumat, 09 Januari 2015


TUGAS SOFTKILL TENTANG KEBUDAYAAN
KEBUDAYAAN/ADAT BATAK (ADAT DALIHAN NATOLU)
Orang Batak memang tidak bisa terlepas dari kebudayaannyasebagai orang Batak. Dan tidak hanya suku Batak saja akan tetapi juga dengan suku-suku lainnya yang ada lainnya diIndonesia bahkan didunia. Karena setiap suku mempunyai budaya/adat masing-masing merupakan sebagian dari hidup mereka. (diartikan secara positif). Setiap budaya/adat tidak bisa dipungkiri bahwa adat/kebudayaan harus terbuka kepada pembaruan-pembaruan sesuai tuntutan jaman akan tetapi khas suku tersebut tidak bias lepas.
Adat Batak kurang efisien dalam mengatur waktu, hal ini perlu mendapat perubahan tanpa mengurangi makna dan hakekat adat batak tersebut. Permasalahan adat batak semakin banyak dipergunjingkan oleh orang BATAK KRISTEN pada waktu belakangan ini. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda/I yang menganggap bahwa adat Batak tersebut kolot “old fashioned” membosankan, dan bertele-tele. Harus diakui bahwa adat Batak itu pada mulanya tidak terlepas pada agama Batak tua. Dipakai untuk peneguhan agamaniah seseorang.
Adat Batak sering dikenal dengan istilah dalihan natolu. Adat adalah aturan yang berlaku karena kebiasaan (hasomalon) yang turun temurun. Dalihan Na Tolu adalah filosofis yang menyangkut masyarakat dan budaya batak. Dalam adat batak dikenal dengan tiga kedudukan fungsional sebagai kontruksi social yang terdiri 3 hal yang menjadi dasar bersama yaitu:
1.       Manat Mardongan Tubu (bersikap baik dengan teman semarga)
Jika kita memperhatikan kampong-kampung yang ada ditanah batak yang tepatnya Tapanuli yang masih sangat tradisional praktis dihuni oleh orang-orang yang satu marga dengan kita(dongan tubu). Karena mereka adalah teman untuk mengerjakan dan merencanankan banyak hal untuk kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu kita harus hati-hati kepada dongan tubu kita (teman satu marga kita didaerah tapanuli).
2.       Elek Marboru (menghargai wanita)
Elek Marboru merupakan nasehat supaya timbul sikap membujuk wanita/pihak boru. Jadi kita senantiasa ramah dan lemah lembut, mereka harus diperhatikan agar tidak lari dari jalannya.
3.       Somba Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang tekananya pada somberarti menyembah, akan tetapi kata Somba di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu(istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
Selain kita telah mengetahui inti dari adat batak itu tersebut otomatis kita mengetahui apa yang menjadi cirri khas makanan  dari adat batak yaitu saksang,arsik, manuk napinadar,dekke naniura, tanggotanggo,natinombur,itak gurgur,sambal tuktuk,tipa-tipa,mie gomak dll. 
Didalam adat batak kita harus mengetahui partuturan kita sendiri atau kekerabatan adat batak toba, yaitu

 Uda, Amang Uda, Bapa Uda

·         panggilan kita terhadap adik laki-laki dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
·         panggilan kita kepada suami dari adik perempuan ibu kita.
Inang Uda, Nanguda
·         panggilan kita terhadap istri dari adik laki-laki ayah kita,
·         panggilan kita terhadap istri dari semarga kita yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
Amang Tua, Bapa Tua (Pak Tua)
·         panggilan kita terhadap Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
·         panggilan kita kepada suami dari kakak perempuan ibu kita.
Inang Tua, Nantua (Mak tua)
·         panggilan kita terhadap istri dari Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap istri dari orang semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
·         panggilan kita kepada kakak perempuan ibu kita.
Tulang (Paman)
·         panggilan kita kepada saudara laki-laki ibu kita.
Nantulang (bibi)
·         panggilan kita terhadap istri dari tulang kita.
Lae
·         panggilan kita (laki-laki) kepada anak laki-laki dari tulang kita,
·         panggilan kita (laki-laki) kepada suami dari saudari kita yang perempuan.
Eda
·         panggilan kita (perempuan) kepada anak perempuan dari tulang kita,
·         panggilan kita (perempuan) kepada istri dari saudara kita yang laki-laki.
Amangboru
·         panggilan kita terhadap suami dari saudari ayah kita perempuan,
·         panggilan terhadap suami dari perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan ayah kita.
Namboru
·         panggilan kita terhadap saudara perempuan ayah kita,
·         panggilan terhadap perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan ayah kita.
Ito, iboto
·         panggilan kita sebagai laki-laki kepada saudari kita (perempuan),
·         panggilan kita sebagai perempuan kepada saudara kita yang laki-laki,
·         panggilan umum bagi orang kepada lawan jenisnya dalam budaya batak toba.
Pariban
·         panggilan kita sebagai laki-laki terhadap anak perempuan dari tulang kita,
·         panggilan kita sebagai perempuan terhadap anak laki-laki dari Namboru kita.
Inang (ibu)
·         panggilan kita terhadap perempuan yang lebih tua dari kita atau kepada orang (perempuan) yang
dituai,
·         panggilan umum untuk menghormati semua perempuan.
Amang
·         panggilan kita terhadap pria yang lebih tua dari kita atau orang (pria) yang dituai,
·         panggilan umum untuk menghormati para pria.
Inong (ibunda)
·         panggilan khusus kepada ibunda kita.
Among (Ayahanda)
·         panggilan khusus kepada ayahanda kita.
Ompung (Kakek/Nenek)
·         dibaca Oppung
·         panggilan kepada kakek/nenek kandung kita.
·         panggilan kepada anak Tulang (Paman) Kita.
·         panggilan umum kepada orang tua yang setingkat dengan kakek/nenek kandung kita.
Ompung Doli (Kakek)
·         dibaca Oppung Doli
·         panggilan khusus kepada kakek kita, ayah dari ayah/ibu kita
Ompung Boru (Nenek)
·         dibaca Oppung Boru
·         panggilan khusus kepada nenek kita, ibu dari ayah/ibu kita
(SUMBER DARI ORANGTUA DAN WIKIPEDIA INDONESIA)